Monday, September 23, 2013

Kisah Menakjubkan Nabi Hud AS

Nabi Hud AS adalah nabi keempat. Ia diutus Allah SWT untuk berdakwah kepada kaum `Ad (para penyembah berhala). Nabi Hud menyeru kaum `Ad agar kembali ke jalan yang benar. Namun, kaum `Ad mengingkari Nabi Hud. Akhirnya, mereka diazab dengan badai topan yang dahsyat.

Kesombongan Kaum `Ad
“Maka adapun kaum `Ad mereka menyombobgkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran, dan mereka berkata, ‘Siapakah yang lebih hebat kekuatannya daripada kami?’ Tidakkah mereka memerhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya daripada mereka. Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Fushilaat [41]: 15)

Kaum `Ad adalah para pekerja keras yang sukses. Mereka dikaruniai tubuh yang kuat dan kekar, juga keahlian mengolah lahan pertanian. Negeri mereka, Al-Ahqaf, adalah negeri yang subur. Hasil perkebunan dan pertanian melimpah ruah. Ternak mereka juga berkembang biak dengan cepat. Tak heran apabila kaum `Ad sangat kaya raya. Namun, kaum `Ad tidak pandai bersyukur. Mereka sombong, merasa hebat dan kuat. Padahal, mereka adakalanya sakit.

Selain itu, kaum `Ad juga para penyembah berhala. Mereka membuat berhala dari batu. Berhala-berhala itu mereka namakan Shamud dan Al-Hattar. Kaum `Ad, tenggelam dalam kesesatan dan kebodohan.

Berdakwah kepada Kaum `Ad
“Dan kepada kaum `Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tiada tuhan bagimu selain Dia. (Selama ini) kamu hanyalah mengada-ada.” (QS. Huud [11]: 50)

Allah SWT mengutus Nabi Hud untuk menyadarkan kaum `Ad. Nabi Hud, menyeru kaumnya agar menyembah Allah SWT dan mau bersyukur. Nabi Hud mengingatkan kaum `Ad akan nikmat-nikmat Allah SWT yang selama ini mereka rasakan. Namun, kaum `Ad menolak seruan Nabi Hud. Mereka tidak mau meninggalkan berhala-berhala sesembahan mereka. Mereka justru menuduh Hud sebagai pendusta.

Nabi Hud menyadarkan kaumnya dengan sabar. Ia jelaskan bahwa ia bukan pendusta. Ia diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan kebenaran. Namun, kaum `Ad tetap ingkar. Mereka kukuh memegang keyakinannya yang sesat.

Nabi Hud tidak putus asa. Ia terus berdakwah kepada kaumnya. Nabi Hud mengingatkan tentang azab yang menimpah kaum Nabi Nuh. Namun, mereka justru menuduh Nabi Hud berdusta. Mereka tidak percaya dengan kisah kaum Nabi Nuh. Hanya beberapa orang yang mau mendengar seruan Nabi Hud.

Kaum `Ad yang Ingkar
“Kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. Dia (Hud) menjawab, ‘Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Huud [11]: 54)

Ratusan tahun, Nabi Hud berdakwah mengajak kaumnya kepada kebenaran. Namun, kaum `Ad tetap keras kepala. Setiap kali Nabi Hud berdakwah, kaum `Ad justru mengejek dan mengolok-olok Nabi Hud.

“Hai Hud, rupanya pikiranmu benar-benar telah sinting. Sekarang kau sudah gila ya? Makanya kau jangan macam-macam. Itulah kutukan dari tuhan-tuhan kami,” olok-olok salah seorang di antara mereka.

“Kau memang sudah gila, Hud. Kata-katamu tidak masuk akal bagi kami. Kami tidak akan pernah mengikutimu. Enyah saja kau dari hadapan kami,” sambung yang lain.

Nabi Hud tetap sabar. Ia ingatkan kaumnya akan azab Allah SWT yang pedih jika mereka tetap ingkar. Namun, usaha Nabi Hud tetap tidak berhasil. Segala cara telah dicoba namun selalu menemui jalan buntu. Kaum `Ad justru menentang agar azab segera diturunkan.

Nabi Hud merasa kaumnya benar-benar telah dibutakan oleh iblis. Tidak ada harapan lagi. Ia pun berkata kepada kaumnya, “Baiklah. Kalau memang kalian tetap membatu dan tidak mau mendengar seruanku. Tunggulah azab dari Tuhanku. Kalian semua pasti binasa.”

Kehancuran Kaum `Ad
“Maka ketika melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan untuk kita.’ Bukan! Tetapi itu adalah azab yang kamu minta disegerakan datangnya, (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 24)

Azab yang dijanjikan pun tiba. Mula-mula dating musim kemarau yang panjang. Panas matahari luar biasa memanggang bumi. Air sungai menjadi kering. Sumur-sumur tidak lagi mengeluarkan air. Hewan ternak mati kehausan. Sawah dan lading mati mengering. Namun, kaum `Ad benar-benar kelewat batas. Mereka belum juga sadar. Bukannya bertobat kepada Allah SWT, mereka justru datang ke berhala-berhala yang tidak berguna itu agar menurunkan hujan.

Tidak lama berselang, muncul gumpalan awan hitam yang tebal dan pekat. Kaum `Ad bersorak-sorai kegirangan. Mereka mengira itu pertanda akan turun hujan.

“Hai Hud, lihatlah ke langit sana! Awan hitam tebal. Sebentar lagi hujan akan turun. Tuhan-tuhan kami telah mengabulkan permintaan kami,” kata seorang di antara mereka dengan sombongnya.

“Awan itu bukan awan pembawa rahmat. Tetapi, itulah awan yang akan menghancurkan kalian. Tunggulah! Azab Allah yang kalian minta, akan segera tiba. Itu, sebagai balasan atas pembangkangan kalian,” jawab Nabi Hud tenang.

Benar saja, tidak lama kemudian angin topan bertiup sangat kencang. Angin itu menukik dari langit. Suaranya bergemuruh sangat menakutkan. Angin itu rasanya sangat dingin. Lebih dingin daripada es. Angin itu menerbangkan apa saja yang menghalanginya. Pepohonan tumbang. Kaum `Ad panik. Mereka berlarian masuk ke rumah. Tetapi, yang terjadi justru angina itu bertiup begitu dahsyat sehingga rumah-rumah kaum `Ad disapunya. Bangunan-bangunan megah itu seketika hancur menimbun orang-orang di dalamnya.

Selama tujuh hari delapan malam, angin topan menderu-deru mencari mangsa. Jerit tangis dan teriakan penyesalan terdengar di mana-mana. Namun, semua sudah terlambat.

Nabi Hud dan Pengikutnya Selamat
“Maka Kami selamatkan dia (Hud) dan orang-orang yang bersamanya dengan rahmat Kami….” (QS. Al-A`raaf [7]: 72)

Kaum `Ad binasa diterjang angina topan. Tidak ada yang tersisa. Semua penjuru negeri itu luluh lantak. Mayat-mayat bergelimpangan. Hanya Nabi Hud dan pengikutnya yang selamat. Ketika azab tengah berlangsung, Nabi Hud dan para pengikutnya berdiam diri di dalam rumah. Rumah-rumah mereka dilindungi Allah SWT dari amukan angina topan. Mereka tidak mengalami kesulitan sedikit pun. Mereka tidak tertimpa sebutir batu atau merasakan dinginnya angin topan. Mereka hanya mendengar jerit tangis yang memilukan.

Negeri  Al-Ahqaf  telah hancur lebur . Tidak layak lagi untuk tempat tinggal. Nabi Hud dan para pengikutnya memutuskan untuk pindah ke Hadramaut. Di sana mereka memulai kehidupan baru.

 Nabi Hud wafat di Hadramaut dalam usia 472 tahun. Makamnya pun masih dapat dilihat sekarang ini. Makam itu terletak sekitar 50 kilometer dari Kota Siwun, Yaman.


Hikmah Kisah

Nikmat yang kita rasakan adalah karunia Allah SWT yang harus disyukuri. Syukur akan menambah nikmat. Sebaliknya, kufur nikmat akan mendatangkan azab.

Selain itu, sikap sabar sangat dibutuhkan untuk mengajak orang lain kepada kebenaran. Seperti yang dilakukan oleh Nabi Hud.

Kisah ini diambil dari buku yang berjudul Kisah Menakjubkan 25 Nabi & Rasul, Semoga cerita ini dapat bermanfaat bagi kalian semua.
Read more » 0 comments

Kisah Menakjubkan Nabi Saleh AS

Nabi Saleh AS adalah nabi kelima. Ia diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah kepada kaum Tsamud. Kaum Tsamud adalah penyembah berhala. Nabi Saleh menyeru kaumnya kepada jalan yang benar. Namun, kaum Tsamud mendustakan Nabi Saleh. Akhirnya, mereka ditimpa azab yang pedih.

Kaum Tsamud yang Kufur
“Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum `Ad dan menempatkan kamu di bumi. Di tempat yang datar kamu dirikan istana-istana dan di bukit-bukit kamu pahat menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-A`raaf [7]: 74)

Kaum Tsamud tinggal di negeri yang subur bernama Al-Hijr. Kebun mereka luas-luas. Pepohonan tumbuh subur dan menghasilkan buah yang lebat. Padang rumput terbentang luas. Hewan ternak mereka gemuk-gemuk dan sehat. Karena itulah, kaum Tsamud hidup makmur.

Kaum Tsamud memiliki keahlian seni bangunan dan seni pahat. Tidak heran jika rumah-rumah mereka megah dan indah. Bahkan, bukit-bukit mereka pahat. Mereka melubanginya dan mendirikan istana di sana.

Semakin hari kekayaan mereka semakin bertambah. Sayangnya, kaum Tsamud tidak bersyukur kepada Allah SWT. Padahal, Allah SWT telah menciptakan negeri yang subur untuk mereka. Mereka justru membuat berhala, lalu menyembah dan meminta perlindungannya.

Berdakwah kepada Kaum Tsamud
“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tiada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya. Karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud [11]: 61)

Allah SWT mengutus Nabi Saleh untuk menyadarkan kaum Tsamud. Nabi Saleh adalah bangsa Tsamud juga. Ia berasal dari keluarga terpandang dan terkenal juga sebagai orang yang sabar dan berbudi pekerti mulia. Ia fasih dan tegas dalam berbicara.

Nabi Saleh melaksanakan tugasnya sebagai seorang rasul. Ia menyeru kaumnya, “Wahai kaumku, Aku diutus oleh Allah untuk menyampaikan kebenaran kepadamu. Sembahlah Allah! Tiada tuhan bagimu selain Dia.”

Kaum Tsamud mengacuhkan seruan Nabi Saleh. Mereka justru menertawakan Nabi Saleh dan mengejeknya sebagai seorang pembohong juga sinting.

“Hai Saleh! Kau tak lebih dari seorang pembohong dan penipu. Kalau Tuhan akan mengangkat seorang rasul, tentulah kami yang dipilih-Nya. Bukankah kami lebih kaya daripada kamu?” kata seorang pemuka kaum Tsamud dengan congkaknya.

Nabi Saleh tidak putus asa. Segala cara ia lakukan untuk menyadarkan kaumnya. Ia sabar menerima perlakuan buruk dari kaumnya. Namun, sekian lama berdakwah, Nabi Saleh hanya memiliki beberapa orang pengikut yang kebanyakan orang-orang miskin.

Unta Ajaib
“Sesungguhnya Kami akan mengirim unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah mereka dan bersabarlah (Saleh).” (QS. Al-Qamar [54]: 27)

Para pemuka kaum Tsamud manantang Nabi Saleh agar mendatangkan suatu mukjizat sebagai bukti kerasulannya. Nabi Saleh menerima tantangan itu. Namun, ia mengajukan suatu syarat. Jika ia berhasil menunjukan suatu mukjizat, mereka harus beriman. Lalu, mereka menyetujui syarat tersebut.

Kemudian, Nabi Saleh berdoa kepada Allah SWT agar diberikan suatu mukjizat sebagai bukti kerasulannya. Allah SWT mengabulkan permohonan Nabi Saleh. Tiba-tiba, dari puncak sebuah bukit muncul seekor unta betina. Unta itu gemuk, sehat, dan sangat indah. Belum pernah ada hewan seindah itu di bumi sebelumnya. Para kemuka kaum Tsamud terkagum-kagum. Begitu juga dengan warga lainnya yang hadir. Namun, para pemuka kaum Tsamud tetap tidak mau beriman. Mereka justru menuduh Nabi Saleh sebagai tukang sihir.

Nabi Saleh tidak menanggapi omongan mereka. Ia hanya berpesan kepada kaumnya, “Jangan kalian ganggu unta ini. Apalagi membunuhnya. Biarkan ia hidup bebas mencari makanannya sendiri. Kalian dapat bergiliran memerah susunya. Unta ini tidak akan berhenti mengeluarkan air susu.”

Pembunuhan Unta Ajaib
“Maka mereka memanggil kawannya, lalu dia menangkap (unta itu) dan memotongnya.” (QS. Al-Qamar [54]: 29)

Sejak peristiwa kemunculan unta ajaib itu, pengaruh Nabi Saleh semakin kuat. Pengikutnya mulai bertambah. Hal ini membuat para pemuka kaum Tsamud cemas karena kedudukan mereka dapat terancam.

Mereka bersekongkol dan merencanakan akan membunuh unta Nabi Saleh. Ada janda cantik dan kaya raya menawarkan dirinya untuk dinikahi dan orangtua yang menawarkan anak-anaknya yang cantik untuk dinikahi jika ada orang yang berhasil membunuh unta Nabi Saleh. Dua hadiah itu sangat memikat kaum Tsamud. Akhirnya, muncul Mushadda bin Muharrij dan Gudar bin Salif. Ia mulai menyusun strategi untuk membunuh unta Nabi Saleh.

Pada hari yang ditentukan, mereka bersembunyi di balik semak mengawasi unta yang sedang minum itu. Kemudian, Mushadda meluncurkan anak panahnya tepat mengenai betis unta itu. Dengan gerakan yang cepat, Gudar menikamkan pedangnya ke perut unta Nabi Saleh. Unta itu jatuh dan akhirnaya mati.

Kebinasaan Kaum Tsamud
“Kemudian suara yang mengguntur menimpa orang-orang zhalim itu, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (QS. Huud [11]: 67)

Setelah berhasil membunuh unta Nabi Saleh, para pemuka kaum Tsamud melangkah menuju rumah Nabi Saleh. Sesamoainya di sana, mereka mengatakan telah membunuh unta itu. Mereka juga menantang Nabi Saleh agar segera menurunkan azab. Nabi Saleh sedih sekaligus marah.

“Aku sudah peringatkan kalian agar jangan mengganggu unta itu. Tapi, kalian justru membunuhnya. Padahal, unta itu memndatangkan manfaat bagi kalian. Sekarang, kalian meminta agar segera diturunkan azab. Kalian memang pantas binasa. Tunggulah azab Allah akan turun dalam tiga hari.”

Bukannya sadar, mereka justru merencanakan untuk membunuh Nabi Saleh. Mushadda dan Gudar bersama tujuh orang temannya bersiap menjalankan aksinya. Mereka bergegas menuju rumah Nabi Saleh untuk membunuhnya. Namun, rencana mereka digagalkan oleh Allah SWT. Batu-batu besar berjatuhan dari langit menghantam kepala mereka. Seketika itu mereka tewas.

Sehari setelah Nabi Saleh dan para pengikutnya keluar dari negeri Al-Hijr menuju Palestina, muncul awan hitam tebal yang menggantung di langit. Kemudian, terdengarlah suara gemuruh yang sangat dahsyat. Petir menyambar dan membakar negeri Al-Hijr. Kaum Tsamud terbakar seperti rumput kering. Mereka binasa menjadi abu.


Hikmah Kisah

Sikap sabar dan pantang menyerah sangat dibutuhkan untuk menegakkan kebenaran. Jadi, kita harus membiasakan berbuat sabar.

Selain itu, kedurhakaan yang kita perbuat hanya akan mendatangkan malapetaka dan kehancuran. Karenanya, janganlah berbuat durhaka kepada Allah atau orangtua. Sebab, Allah SWT akan mengazab kita.

Kisah ini diambil dari buku yang berjudul Kisah Menakjubkan 25 Nabi & Rasul, Semoga cerita ini dapat bermanfaat bagi kalian semua.
Read more » 0 comments

Kisah Menakjubkan Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS adalah nabi keenam. Ia diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah di negeri Babylonia. Pada masa itu, Babylonia dipertintah oleh raja Namrud. Namrud adalah seorang raja yang kejam. Selama hidupnya, Nabi Ibrahim berpindah-pindah dalam berdakwah. Mulai dari Babylonia, Palestina, Mesir, dan kembali lagi ke Palestina. Nabi Ibrahim wafat di Hebron, Palestina.

Terlahir di Tengah Ancaman
“Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim.” (QS. Asy-Syu`araa [26]: 69)

Ibunda Ibrahim terpaksa mengasingkan diri ke gua saat kelahiran Ibrahim sudah dekat. Sebab, saat itu tengah terjadi pembunuhan bayi laki-laki oleh tentara Raja Namrud. Raja Namrud bermimpi mahkotanya dilepas oleh seorang anak kecil. Ia pun menjadi resah dan menanyakan arti mimpinya kepada para peramal.

“Mimpi baginda itu merupakan pertanda buruk. Di negeri ini, akan lahir seorang bayi laki-laki yang istimewa. Kelak jika telah dewasa, ia akan menggulingkan kekuasaan baginda,” ujar para peramal.

Raja Namrud terpengaruh. Akhirnya, ia memerintahkan tentaranya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Mereka berpatroli keliling kota dan membunuh setiap bayi laki-laki yang dijumpainya.

Sementara itu, di dalam gua, ibunda Ibrahim melahirkan Nabi Ibrahim dengan selamat. Namun, setelah beberapa bulan di dalam gua, ibunda Ibrahim pulang ke rumahnya tanpa membawa Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim ditinggalkan di dalam gua. Ibunda Nabi Ibrahim takut kalau di bawa ke kota, Nabi Ibrahim akan dibunuh oleh tentara Raja Namrud.

Allah SWT senantiasa melindungi dan memelihara Ibrahim. Apabila lapar atau haus, Ibrahim menghisap ibu jarinya. Dari ibu jarinya keluar cairan manis seperti susu. Bertahun-tahun Ibrahim tin\ggal dalam gua. Ia tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Ibrahim Mencari Tuhan
“(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), ‘Berserah dirilah!’ Dia menjawab, ‘Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah [2]: 131)

Saat berusia sekitar lima tahun, Ibrahim memberanikan diri keluar dari gua. Ia sangat takjub menatap langit dengan miliaran bintang bertaburan di angkasa. Bulan memancarkan sinarnya menerangi bumi dalam kegelapan malam.

Allah SWT menganugerahkan akal yang cerdas dan hati yang bersih kepada Ibrahim. Ia sering memikirkan tentang alam semesta. Ia bertanya kepada diri sendiri, “Siapakah pencipta yang telah menciptakan alam semesta ini?”

Ibrahim terus memikirkannya hingga ia remaja. Ia memikirkan tentang langit yang tegak berdiri tanpa tiang penyangga. Bumi yang terhampar luas. Malam dan siang yang dating silih berganti. Hujan yang turun dengan teratur. Semuanya diteliti dan direnungkan oleh Ibrahim. Akhirnya, Ibrahim sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan Yang Maha Esalah yang telah menciptakan, mengatur, dan memelihara alam semesta.

Diangkat Menjadi Nabi
“Dan orang yang membenci agama Ibrahim hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat ia termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Baqarah [2]: 130)

Saat beranjak dewasa, Ibrahim kembali ke kampung halaman orangtuanya di Fadam Aram. Ia sangat sedih menyaksikan kondisi masyarakatnya yang menyembah berhala. Ibrahim berpikir, bodoh sekali mereka itu, menyembah berhala yang mereka buat sendiri. Ibrahim semakin sedih ketika mengetahui ayahnya, Azar, adalah seorang pembuat berhala. Hatinya pilu.

Ibrahim semakin sedih dan galau saat ayahnya memintanya untuk menjualkan berhala-berhala buatannya. Dengan berat hati, Ibrahim menjualkan berhala-berhala itu. Namun, saat ada yang membeli berhala-berhala tersebut, Nabi Ibrahim justru mengeluarkan kata-kata celaan.

“Adakah orang yang akalnya sehat mau membeli berhala ini untuk disembah?” kata Ibrahim.

Orang-orang pun heran dengan ulah Ibrahim. Ulah Ibrahim itu didengar juga oleh ayahnya. Terang saja Azar sangat marah. Ia memarahi Ibrahim habis-habisan. Ibrahim dihadapkan pada situasi yang sulit. Ia sangat menentang pekerjaan ayahnya. Tapi, ia juga tidak mau melukai hati ayahnya. Ia sering mengadu kepada Allah SWT.

“Oh Tuhanku, berilah aku petunjuk. Jika Engkau tidak memberikan petunjuk kepadaku, niscaya aku akan tersesat seperti orang-orang itu,” rintih Ibrahim dalam doanya. Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya. Allah SWT memberikan petunjuk kepada Ibrahim dan mengangkatnya menjadi nabi dan rasul. Allah SWT menurunkan wahyu-wahyu-Nya kepada Ibrahim.

Menjalankan Tugas Dakwah
“Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Sebenarnya Tuhan kamu adalah Tuhan (pemilik) langit dan bumi; Dialah yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang yang dapat bersaksi atas itu.” (QS. Al-Anbiyaa` [21]: 56)

Nabi Ibrahim menjalankan tugas dakwahnya. Awalnya, ia berdakwah kepada ayahnya, Azar. Ia menyeru ayahnya agar menyembah Allah SWT. Sayangnya, sang ayah menolak. Azar sangat marah, bahkan mengusir Ibrahim.

Karena telah diusir oleh ayahnya, Nabi Ibrahim terpaksa pergi. Namun, ia tetap menghormati, bahkan mendoakannya. Nabi Ibrahim pergi mengembara ke penjuru kota Babylonia. Ia berdakwah kepada setiap orang yang ditemuinya.

“Hai penduduk Babylonia, mengapa kalian menyembah berhala-berhala yang tidak berguna itu? Berhal-berhala itu tidak mampu mendatangkan manfaat atau mencegah bahaya. Tinggalkanlah berhala-berhala sesat itu! Sembahlah Allah, Tuhan Yang Maha Esa,” terang Nabi Ibrahim.

Namun, penduduk Babylonia menentang seruan Nabi Ibrahim. Akal dan hati mereka telah tertutup. Perkataan Nabi Ibrahim tidak menyentuh hatinya. Mereka tetap menyembah berhala-berhala itu.

Sekian lama berdakwah, Nabi Ibrahim hanya memperoleh dua orang pengikut. Mereka adalah Sarah dan Luth. Sarah adalah wanita cantik dan salehah yang kelak menjadi istri Nabi Ibrahim. Sedangkan, Luth adalah kemenakan Nabi Ibrahim.

Menghancurkan Berhala
“Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya) agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS. Al-Anbiyaa` [21]: 58)

Karena dakwah dengan cara lisan tidak berhasil,Nabi Ibrahim menempuh jalan lain. Ia ingin membuktikan kepada kaumnya bahwa berhala-berhala itu tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan untuk menolong dirinya sekalipun. Karenanya, pada saat Raja Namrud dan seluruh penduduk Babylonia pergi keluar kota untuk merayakan hari besarnya, Nabi Ibrahim menjalankan aksinya. Saat itu, Kota Babylonia sunyi senyap. Nabi Ibrahim pergi menuju tempat peribadatan penduduk Babylonia. Di sana tidak ada penjaga.

Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu dengan kapak. Semua berhala hancur lebur. Hanya satu berhala yang paling besar disisakan. Kemudian, Nabi Ibrahim mengalungkan kapaknya ke leher berhala paling besar tersebut.

Nabi Ibrahim Disidang
“Mereka bertanya, ‘Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Sebenarnya berhala besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al-Anbiyaa` [21]: 62_63)

Penduduk Babylonia kembali dari perayaan hari besarnya. Mereka sangat marah ketika mengetahui sesembahan mereka hancur berkeping-keping. Mereka dicekam ketakutan akan mendapat kutukan dari tuhan-tuhan palsu itu. Raja Namrud pun menjadi murka.

Raja Namrud memerintahkan agar dilakukan penyelidikan. Pelaku penghancuran itu harus ditangkap hidup atau mati. Akhirnya, mereka menyimpulkan Ibrahimlah pelakunya. Ibrahimlah satu-satunya orang yang tidak ikut perayaan hari besar.

Kemudian, Nabi Ibrahim ditangkap dan diadili. Ia disidang di lapangan terbuka. Penduduk Babylonia telah memadati lapangan. Sidang pun dimulai.

“Apakah kamu yang menghancurkan berhala-berhala sesembahan kami?” Tanya salah seorang hakim.

“Tanya saja kepada berhala besar yang menyandang kapak itu. Mungkin dia yang menghancurkan berhala-berhala lainnya,” jawab Nabi Ibrahim tenang.

Para hakim terkejut mendengar jawaban Nabi Ibrahim. Mereka menggeleng-gelengkan kepalanya dan saling berbisik. Mungkin mereka mengira Nabi Ibrahim sudah gila. Padahal, sesungguhnya merekalah yang gila. Menyembah berhala yang mereka buat sendiri.

“Hai Ibrahim, apakah kamu sudah gila? Bagaimana mungkin kami menanyakannya kepada berhala itu. Sedangkan, dia tidak dapat berbicara,” ujar sang hakim. Raut mukanya menunjukan rasa kesal.

Nabi Ibrahim tersenyum mendengar kata-kata para hakim. Ia menatap para hakim satu per satu. Kemudian, beralih kepada penduduk Babylonia yang hadir dalam persidangan itu.

Dengan mantap Nabi Ibrahim berkata, “Jika kalian sudah mengetahui bahwa berhala itu tidak dapat berbicara, mendengar, dan melihat, mengapa kalian menyembahnya? Kalau berhala itu tidak dapat membela dirinya sendiri dari kehancuran, mengapa kalian memujanya dan memohon perlindungan kepadanya?”

“Alangkah bodohnya kalian ini! Tidakkah kalian menyadari bahwa perbuatan kalian itu perbuatan yang sesat? Mengapa kalian tidak menyembah Tuhanku, Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang telah menciptakan aku, kalian, nenek moyang kalian, dan segala sesuatu yang ada di alam ini,” kata Nabi Ibrahim kembali.

Kata-kata Nabi Ibrahim membuat para hakim dan seluruh orang yang hadir saat itu terperangah. Namun, karena hati mereka telah tertutup, kebenaran yang disampaikan Nabi Ibrahim tetap tidak diterima. Mereka justru mengejek dan menghina Nabi Ibrahim. Para hakim memutuskan Nabi Ibrahim bersalah dan harus dihukum. Nabi Ibrahim dihukum dengan dibakar hidup-hidup.

Dibakar Hidup-hidup
“Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat’. Kami (Allah) berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiyaa` [21]: 68_69)

Tentara kerajaan dibantu rakyat menyiapkan kayu bakar hingga seperti bukit. Kemudian, Nabi Ibrahim dibawa ke tengah-tengah tumpukan kayu bakar itu dan diikat. Namun, Nabi Ibrahim tetap tenang. Tidak terlihat sedikit pun rasa khawatir atau takut di raut wajahnya. Ia yakin Allah SWT pasti melindunginya.

Kemudian, api pun dinyalakan. Dengan cepat, api melahap kayu bakar kering hingga mengepulkan asap yang membumbung tinggi ke udara. Api tersebut sangat besar dan panas. Penduduk Babylonia bersorak merayakan kemenangannya. Mereka berpikir bahwa Nabi Ibrahim telah hangus menjadi abu.

Namun, apa yang terjadi? Allah SWT menolong dan melindungi Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, “Hai api, menjadi dinginlah kamu dan selamatlah Ibrahim.” Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu. Api itu pun menjadi dingin. Ia tidak membakar Nabi Ibrahim. Api hanya membakar tali pengikat lengan Nabi Ibrahim.

Berdakwah ke Harran
“Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, ‘Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS. Al-An`aam [6]: 76)

Peristiwa selamatnya Nabi Ibrahim dari kobaran api membuat penduduk Babylonia terguncang hatinya. Mereka mulai berpikir akan kebenaran ajaran yang disampaikan Nabi Ibrahim. Namun, mereka takut kepada Raja Namrud. Nabi Ibrahim merasa tidak ada harapan lagi berdakwah di Babylonia. Ia memutuskan pergi meninggalkan Babylonia. Ia mengajak, Sarah dan Luth mengembara.

Sepeninggal Nabi Ibrahim, negeri Babylonia dilandah wabah penyakit. Allah SWT menurunkan azab bagi penduduk Babylonia. Berjuta-juta nyamuk menyerang Babylonia. Bukan hanya orang yang digigitnya, binatang dan tanaman pun tidak luput dari gigitannya. Itulah azab Allah SWT yang pedih yang ditimpakan kepada orang-orang yang durhaka.

Nabi Ibrahim mengembara untuk menjalankan tugas dakwahnya. Sarah dan Luth setia mendampingi. Sampailah Nabi Ibrahim di suatu kampung bernama Harran. Penduduknya menyembah bintang, bulan, dan matahari. Nabi Ibrahim menghentikan perjalanannya dan menetap di kampung itu untuk berdakwah.

Ketika malam tiba, saat Nabi Ibrahim sedang berkumpul dengan penduduk kampung, ia menyahut, “Inilah Tuhanku.”

Nabi Ibrahim berkata begitu dengan maksud menyindir penduduk kampung yang menyembah bintang. Namun, ketika bintang itu redup dan akhirnya hilang, Nabi Ibrahim kembali berkata, “Tidak! Itu bukan Tuhanku. Aku tidak suka Tuhan yang meninggalkan aku.”

Ini merupakan sanggahan Nabi Ibrahim yang pertama. Nabi Ibrahim berharap dengan cara ini dapat menyadarkan kaumnya dari kesesatan.

Ketika bulan terbit, Nabi Ibrahim berkata lagi, “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar dan terang sinarnya.”

Namun, ketika bulan itu tenggelam, Nabi Ibrahim berkata, “Tidak! Itu bukan Tuhanku. Tidak mungkin Tuhan tenggelam dan hilang. Jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk kepadaku niscaya aku termasuk orang-orang yang sesat.

Perkataan Nabi Ibrahim itu merupakan sindiran bagi kaum Harran bahwa mereka itu berada dalam kesesatan. Namun, penduduk kampung itu belum sadar juga. Mereka justru menganggap Nabi Ibrahim orang yang aneh.

Kemudian, pada siang hari ketika melihat matahari, Nabi Ibrahim berkata, “Inilah Tuhanku. Sinarnya lebih terang daripada bintang dan bulan.”

Namun, ketika matahari terbenam, Nabi Ibrahim berkata, “Tidak! Itu bukan Tuhanku. Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

Penduduk kampung itu tidak mampu membantah perkataan Nabi Ibrahim. Mereka berkata, “Lantas apakah yang kamu sembah?”

Nabi Ibrahim menjawab, “sesungguhnya aku menyembah kepada Allah. Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi. Aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah.”

Namun, penduduk kampung itu tetap menolak ajaran Nabi Ibrahim. Hati mereka telah mengeras. Lebih keras dari batu. Mereka tidak dapat menerima kebenaran. Karena penduduk kampung menolak dakwahnya, Nabi Ibrahim melanjutkan kembali pengembaraannya. Ia pergi menuju Palestina dan menetap di sana.

Suatu saat, Palestina dilanda kekeringan. Nabi Ibrahim memutuskan pindah ke Mesir. Ternyata, Mesir bukan negeri yang cocok untuk berdakwah. Penduduknya sangat zhalim. Nabi Ibrahim pindah lagi ke Palestina dan berdakwah sampai akhir hayatnya. Nabi Ibrahim wafat di Hebron, Palestina.


Hikmah Kisah

Jika tidak ada masalah, mohonlah petunjuk kepada Allah SWT, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim berhasil diselamatkan oleh Allah SWT ketika akan dibakar oleh penduduk dan tentara kerajaan Babylonia. Sebab, ia selalu memohon petunjuk kepada Allah ketika menghadapi masalah.

Kisah ini diambil dari buku yang berjudul Kisah Menakjubkan 25 Nabi & Rasul, Semoga cerita ini dapat bermanfaat bagi kalian semua.
Read more » 0 comments

Kisah Menakjubkan Nabi Luth AS

Nabi Luth AS adalah nabi ketujuh. Ia adalah kemenakan Nabi Ibrahim. Allah SWT mengutusnya untuk berdakwah di negeri Sodom. Sekarang ini, Sodom termasuk wilayah Yordania. Penduduk negeri Sodom berperilaku menyimpang. Mereka menyukai sesama jenis (homo). Nabi Luth menyeru mereka agar kembali ke jalan yang benar. Namun mereka ingkar. Akibatnya, mereka diazab oleh Allah SWT.

Kebejatan Penduduk Sodom
“Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks). Dan kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istri kamu? Kamu (memang) orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy-Syu`araa [26]: 165_166)

Penduduk Sodom adalah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Mereka juga jahat dan bermoral bejat. Pembunuhan, perampokan, dan penganiayaan merupakan hal biasa bagi mereka. Mereka seperti hidup di alam liar. Pihak yang kuat menindas yang lemah. Hukum tidak berlaku di sana.

Kebejatan moral yang paling parah adalah mereka menyukai sesama jenis. Laki-laki menyukai laki-laki (homoseks). Jika ada laki-laki tampan, mereka akan memperebutkannya.

Akibat perilaku homo tersebut, para wanita Sodom menjadi merana. Mereka tercampakkan. Akhirnya, mereka ikut berperilaku menyimpang. Mereka menyukai sesama wanita (lesbian). Dari sinilah perilaku homoseks dan lesbian bermula.

Nabi Luth Menjalankan Tugas Dakwah
“Dan (Kami juga mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini).” (QS. Al-A`raaf [7]: 80)

Nabi Luth berdakwah kepada penduduk Sodom agar mau menyembah dan bertakwa kepada Allah SWT. Ia juga menyeru kaum Sodom meninggalkan perilaku jahat, seperti merampok, menganiaya, dan menyukai sesama jenis. Namun, penduduk Sodom menentang dakwah Nabi Luth.

Nabi Luth tidak putus asa. Ia terus berdakwah mengajak penduduk Sodom agar kembali ke jalan yang benar. Namun, hanya beberapa orang yang mendengar seruan Nabi Luth. Kebanyakan mereka tetap ingkar. Bahkan, istri Nabi Luth sendiri telah berpihak kepada penduduk Sodom. Ia telah tergoda oleh harta. Tidak hanya itu, penduduk Sodom juga mengancam Nabi Luth. Mereka akan mengusir dan membunuh Nabi Luth jika tidak menghentikan dakwahnya.

Tamu Istimewa
“Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) datang kepada Luth, dia merasa bersedih hati karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka….” (QS. Al-`Ankabuut [29]: 33)

Suatu hari, Nabi Luth kedatangan tamu tiga pemuda tampan. Nabi Luth menjadi cemas dengan kedatangan tamunya. Ia khawatir keberadaan tamunya diketahui oleh penduduk Sodom. Sementara, ia tidak mampu melindungi mereka.

Istri Nabi Luth yang mengetahui keberadaan tamu suaminya bergegas keluar rumah. Ia hendak memberitahukan penduduk Sodom mengenai tamu Nabi Luth. Tidak lama setelah itu, kaum laki-laki penduduk Sodom telah berada di depan pintu rumah Nabi Luth.

Mereka menggedor-gedor pintu dan berteriak agar Nabi Luth menyerahkan tamu itu pada mereka. Nabi Luth semakin cemas. Ia berusaha menyadarkan kaumnya. Sayangnya usaha itu sia-sia. Mereka terus berteriak, “Dobrak, dobrak, dobrak.”

Saat situasi semakin genting, ketiga pemuda itu menenangkan Nabi Luth. Mereka mengatakan bahwa mereka Malaikat. Mereka diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan kabar penting kepada Nabi Luth. Sebab, azab akan segera turun. Nabi Luth bersama keluarga dan pengikutnya diperintahkan pergi meninggalkan Sodom. Nabi Luth juga dilarang menoleh ke belakang jika ingin selamat. Menoleh ke belakang berarti mencintai Sodom dan peradabannya yang buruk.

Ketiga malaikat itu lalu menyuruh Nabi Luth agar membuka pintu. Seketika penduduk Sodom berhamburan masuk. Namun, tiba-tiba penglihatan mereka menjadi buta. Mereka menjerit histeris seperti singa terluka.

Kehancuran Penduduk Sodom dan Selamatnya Nabi Luth
“Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar.” (QS. Huud [11]: 82)

Sebelum terbit fajar, Nabi Luth bersama kedua putrid an pengikutnya pergi meninggalkan kota Sodom. Akan tetapi, istri Nabi Luth merasa enggan. Ia tidak rela meninggalkan hartanya. Saat itulah azab Allah SWT mulai menimpa penduduk Sodom. Petir sambar-menyambar menjilati bumi. Kemudian, datanglah hujan batu yang disertai api. Penduduk Sodom panik. Mereka berhamburan ke sana kemari. Hujan batu semakin menjadi-jadi. Penduduk Sodom tewas satu persatu tertimpa batu.

Tidak lama berselang, azab Allah SWT yang lain datang. Bumi berguncang dahsyat. Kemudian, menjadi terbalik. Membenamkan penduduk Sodom dan rumah-rumah mereka. Sementar itu, Nabi Luth bersama kedua putri dan pengikutnya hampir sampai di batas kota. Namun, istri Nabi Luth tertinggal jauh di belakang. Hatinya merasa berat meninggalkan Sodom. Istri Nabi Luth tidak kuat menahan keinginannya untuk menoleh ke belakang. Ketika itu pun juga ia menjadi kaku.

Fajar mulai terbit. Kota Sodom terus berguncang hebat. Suaranya bergemuruh. Api menyembur dari dalam bumi. Terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat. Negeri Sodom dan penduduknya hangus terbakar menjadi abu. Termasuk istri Nabi Luth yang durhaka.

Nabi Luth bersama kedua putri dan pengikutnya selamat. Mereka meneruskan perjalanan untuk memulai kehidupan baru.


Hikmah Kisah

Perilaku buruk, seperti kaum Sodom, adalah perbuatan yang sangat tercela dan nista. Karenanya, harus dihindari sejauh-jauhnya. Padahal, Nabi Luth sudah memperingati mereka semua. Namun, kedurhakaan mereka yang melewati batas mengundang azab Allah SWT. Jadi, jauhilah perbuatan durhaka.

Kisah ini diambil dari buku yang berjudul Kisah Menakjubkan 25 Nabi & Rasul, Semoga cerita ini dapat bermanfaat bagi kalian semua.
Read more » 0 comments

Kisah Menakjubkan Nabi Ismail AS

Nabi Ismail AS adalah nabi kedelapan. Ia adalah putra Nabi Ibrahim dari istrinya yang bernama Hajar. Suatu saat, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail sebagai kurban. Ismail ikhlas melaksanakan perintah itu. Ismail pun lulus ujian Allah SWT. Kemudian, Ia diangkat menjadi nabi dan rasul. Nabi Ismail berdakwah di Mekah hingga wafat.

Kelahiran Ismail
“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sabar (Ismail).” (QS. Ash-Shaafaat [37]: 101)

Bertahun-tahun, Nabi Ibrahim dan Sarah tinggal di Palestina. Mereka hidup bahagia dan sejahtera. Hanya satu hal yang membuat mereka sedih. Mereka belum juga dikaruniai anak. Padahal, usia Nabi Ibrahim dan Sarah sudah semakin tua.

Nabi Ibrahim sering berdoa kepada Allah SWT. Ia memohon agar dikaruniai anak untuk meneruskan perjuangannya dalam menyiarkan agama-Nya.

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh,” rintih Nabi Ibrahim dalam doanya.

Sarah merasa kasihan melihat suaminya. Akhirnya, Sarah mengusulkan kepada suaminya agar menikahi Hajar. Nabi Ibrahim pun menikahi Hajar. Dari pernikahannya dengan Hajar, Nabi Ibrahim dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ismail.

Hikmah di Balik Perintah
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dan buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibraahiim [14]: 37)

Suatu ketika, Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Ibrahim agar membawa Hajar dan Ismail pergi ke suatu tempat yang jauh dari Palestina. Nabi Ibrahim adalah seorang hamba yang sangat taat kepada Allah. Jadi, tidak mungkin ia melawan atau membantah perintah Tuhannya. Ia sangat yakin pasti ada hikmah yang besar di balik perintah tersebut. Karenanya, Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail pergi.

Berminggu-minggu mereka menempuh perjalanan dan mengarungi padang pasir yang tandus dan gersang. Saat siang hari, terik matahari membakar kulit. Sedangkan, malam hari angin sangat dingin menusuk tulang. Mereka terus melakukan perjalanan hingga sampai di sebuah tempat. Saat itu, unta yang dinaiki Nabi Ibrahim berhenti dan tidak mau berjalan.

Nabi Ibrahim merasa inilah tempat yang dimaksudkan untuk meninggalkan Hajar dan Ismail. Tempat itu adalah sebuah hamparan padang pasir dengan dihiasi bukit dan lembah. Hanya ada sebatang pohon besar yang dapat dijadikan tempat berteduh. Akhirnya, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail. Tentu saja Hajar mempertanyakan maksud suaminya.

“Wahai suamiku, akankah kau meninggalkan kami di tempat seperti ini?” Tanya Hajar.

“Aku hanya menjalankan perintah Allah, Hajar. Jadi, bertawakallah kepada-Nya. Yakinlah Dia akan senantiasa melindungi engkau dan Ismail di tempat sunyi ini,” ujar Nabi Ibrahim menenangkan istrinya.

Hajar adalah istri yang salehah. Ia rela melepaskan Nabi Ibrahim pergi meninggalkan dirinya dan Ismail. Hajar sangat yakin pasti ada hikmah di balik ujian ini. Ia yakin Allah SWT senantiasa menyertainya.

Hari demi hari, Hajar melalui kehidupannya di tempat sunyi itu bersama anaknya. Suatu hari, Ismail menangis karena kehausan. Padahal, perbekalan makanan dan minuman telah habis. Hajar berusaha menyusuinya, tapi air susunya kering. Akhirnya, Hajar berusaha sekuat tenaga mencari air. Hajar tidak berhenti dan menyerah. Ia terus berusaha mencari air dengan seluruh kemampuannya.

Saat itu pula, Allah SWT memberikan pertolongan-Nya. Dari hentakan kaki Ismail, keluarlah air. Kemudian, Hajar berkata, “Zamzam….zamzam….” (yang artinya berkumpul-berkumpul). Jadilah sumber mata air yang kini kita kenal dengan mata air Zamzam yang airnya tidak pernah kering.

Suatu hari, datanglah sekelompok kafilah (rombongan berkendaraan unta di padang pasir) dagang ke tempat itu. Kafilah itu berasal dari suku Jurhum. Mereka pun meminta izin kepada Hajar untuk mengambil air dari mata air Zamzam. Hajar pun mengizinkannya. Suku Jurhum merasa betah beristirahat di situ. Kemudian, mereka meminta izin kepada Hajar untuk tinggal menetap di situ.

Suku Jurhum sangat menghormati Hajar dan Ismail. Mereka menganggap Hajarlah pemilik mata air Zamzam dan wilayah itu. Terlebih, setelah mereka mengetahui bahwa Hajar adalah istri Nabi Ibrahim dan Ismail adalah putranya.

Wilayah itu kemudian menjadi semakin ramai. Banyak orang yang berdatangan dan menetap di situ. Tempat itu kemudian diberi nama Mekah. Kota Mekah terus berkembang dan semakin ramai.

Ujian Mahaberat
“Maka ketika anak itu sampai (pada usia) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia Ismail menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaaffaat [37]: 102)

Belasan tahun, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail. Suatu saat, dirinya mendapat perintah untuk menemui mereka. Berangkatlah Nabi Ibrahim untuk menjenguk Ismail dan Hajar.

Selama berminggu-minggu, ia melewati padang pasir yang gersang. Akhirnya, sampailah di tempat dahulu ia meninggalkan Ismail dan Hajar. Alangkah terkejutnya ia, tempat itu kini berubah menjadi sebuah kota yang ramai. Ia teringat saat pertama kali meninggalkan Hajar dan Ismail. Saat itu, daerah tersebut masih berupa gurun pasir yang gersang.

Nabi Ibrahim pun bertemu Hajar dan Ismail. Saat itu, Ismail telah beranjak remaja. Nabi Ibrahim segera memeluk Ismail erat-erat. Hajar juga sangat rindu kepada suaminya. Mereka bercengkerama melepas rindu dalam suasana yang hangat.

Suatu malam, Nabi Ibrahim bermimpi memperoleh perintah dari Allah SWT untuk menyembelih Ismail sebagai kurban. Ketika terbangun, Nabi Ibrahim termenung memikirkan mimpinya. Ia merasakan betapa beratnya perintah Allah SWT itu. Setelah belasan tahun terpisah, kini anak kesayangan itu harus disembelih sebagai kurban. Karena ia adalah hamba yang taat kepada Tuhannya, ia pun segera melaksanakan perintah tersebut. Akan tetapi, ia bimbang terhadap Ismail. Akankah ia rela menerimanya? Kemudian, Nabi Ibrahim mengajak Ismail berdiskusi.

“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi diperintahkan untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” Tanya Nabi Ibrahim.

Ismail adalah anak yang saleh dan sangat sabar. Ia sangat taat kepada Allah SWT dan berbakti kepada orangtuanya.

“Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah SWT kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,” jawab Ismail tegas.

Keesokan harinya, Nabi Ibrahim dan Ismail pergi ke sebuah tempat bernama Mina. Di tempat itulah Nabi Ibrahim akan menyembelih Ismail sebagai kurban. Tidak terlihat perasaan sedih dan galau di raut wajah ayah dan anak itu. Keduanya telah mantap melaksanakan perintah Allah SWT.

Nabi Ibrahim menyiapkan tempat penyembelihan. Ismail pun dibaringkan di atas sebuah batu besar. Pisau tajam telah diletakkan di atas leher Ismail. Penyembelihan siap dilakukan. Nabi Ibrahim pun menekankan pisaunya ke leher Ismail. Anehnya, pisau itu tidak mampu melukai Ismail. Pada saat itu, datanglah wahyu dari Allah SWT. Ismail digantikan dengan seekor kambing yang besar dan gemuk. Kambing itulah yang kemudian disembelih sebagai kurban. Peristiwa ini kemudian diabadikan menjadi syariat kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik (hari yang diharamkan berpuasa dan disunahkan menyembelih kurban pada hari ke-11, ke-12, dan ke-13 bulan Zulhijah) oleh jemaah haji dan segenap umat Islam di seluruh dunia.

Membangun Baitullah
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 127)

Tidak lama setelah peristiwa kurban. Nabi Ibrahim memperoleh perintah agar membangun Baitullah (Ka`bah). Ia menyampaikannya kepada Ismail. Ismail dengan senang hati membantu ayahnya melaksanakan perintah Allah SWT tersebut. Mulailah keduanya membangun Ka`bah. Ka`bah dibangun tidak jauh dari mata air Zamzam.

Pembangunan Ka`bah akhirnya selesai. Kemudian, Nabi Ibrahim dan Ismail berdoa, “Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami juga umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Ka`bah inilah yang kemudian menjadi kiblat bagi umat Islam dalam menjalankan shalat. Sekarang, Ka`bah terletak di tengah-tengah Masjidil Haram di Mekah. Di sinilah setiap tahun jutaan umat Islam dari segenap penjuru dunia datang untuk menunaikan ibadah haji.

Ismail Diangkat Menjadi Nabi
“Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Qur`an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam [19]: 54)

Sekian lama, Ismail mendampingi ayahnya berdakwah. Ia pun diangkat menjadi seorang nabi dan rasul. Ismail sangat pantas diangkat menjadi nabi karena memiliki akhlak yang mulia. Ia sangat taat kepada Allah SWT, berbakti kepada orangtuanya, menepati janji, dan bijaksana.

Nabi Ismail berdakwah di Mekah. Ia menyeru umat manusia agar menyembah Allah SWT dan bertakwa kepada-Nya. Nabi Ismail wafat di Mekah. Tempat wafatnya dinamakan Hijr Ismail.


Hikmah Kisah

Setiap orang beriman pasti akan diuji oleh Allah SWT untuk membuktikan kebenaran imannya. Karenanya, bersabarlah ketika kita mendapatkan ujian dari Allah SWT. Allah SWT selalu bersama orang-orang yang sabar.

Selain itu, kita juga harus berbakti kepada Allah dan orangtua, seperti yang telah dilakukan Nabi Ismail. Allah SWT akan memberikan ganjaran setimpal untuk orang yang selalu berbakti.

Kisah ini diambil dari buku yang berjudul Kisah Menakjubkan 25 Nabi & Rasul, Semoga cerita ini dapat bermanfaat bagi kalian semua.
Read more » 1 comments

Copyright © Kisah Nabi dan Rasul 2010

Template By Nano | Powerred by Blogger